Media

 
 
Mainan Edukasi Tak Perlu Mahal
Sabtu, 08 September 2012 - 11:44:05 WIB | Administrator - Crazy Birds | 869 Views
Mainan Edukasi Tak Perlu Mahal

Proses belajar anak yang paling ideal adalah lewat sebuah permainan. Bermain memang cara anak mempelajari segala hal yang sekaligus merupakan kebutuhan terhadap perkembangan fisik, kecerdasan, dan emosinya. Maka dari itu, setiap orangtua pasti akan perhatian dengan pemilihan jenis permainan anak.
 
Kadang demi perkembangan anak, orangtua tak pernah sayang merogoh koceknya. Mereka sebisa mungkin memberikan segala yang terbaik. Berapa banyak Anda bersedia mengeluarkan uang buat sebuah mainan dengan nilai edukatif? Semua itu tentu tergantung dari kemampuan masing-masing. Mainan yang sarat edukasi harus mempunyai kriteria merangsang anak buat berpikir, jenis permainan seperti menyusun puzzle dianggap sebagai salah satunya. 
 
Nah, berangkat dari kesadaran itu, Eka Putra Paksi Tanuwidjaja, MBA, selaku Direktur PT Dokter Toy Indonesia, produsen dari Crazy Birds, mengatakan, "Awalnya adalah keinginan menciptakan sebuah permainan yang punya nilai edukasi dan murah, jadi terjangkau oleh semua kalangan. Dengan begitu, mainan berkualitas tak hanya milik anak mampu saja."
 
Crazy Bird pun tercipta sejak Mei 2012 dengan harga eceran per bungkus Rp 1.000. Mainan yang seperti bongkar pasang ini berbentuk karakter kartun lucu. Sebelum memainkannya, si anak harus menyusun gambar tersebut hingga menyerupai sebuah karakter.
 
"Anak TK juga bisa memainkannya, ada instruksi mudah menyusunnya. Ini baik dalam melatih motorik halus mereka," lanjut Eka pada acara Pertualangan Crazy Bird ke Sumba, bertempat di Mal Ciputra, Jakarta, Kamis (30/8/2012). Permainan tak berhenti sampai di situ. Setelah itu mereka juga dapat memainkannya bersama teman-teman di sebuah papan arena. Nah, aturan permainannya seperti bermain karambol. 
 
"Saat ini anak terlalu sering bermain permainan elektronik. Asyik bermain sendiri menjadi sangat individualistis. Crazy Bird mengembalikan suasana bermain bersama teman yang lain. Mereka jadi berinteraksi dan belajar menerima kekalahan dalam berkompetisi," ungkap Eka semangat.
 
Ia pun bercerita betapa senangnya ketika mendapat komentar dari seorang bapak yang mengatakan bahwa ia jadi punya permainan bersama anaknya. "Keluarga jadi bisa bermain bersama," ungkapnya.